Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Friday, 14 September 2012

Tradisi Tumbilotohe Gorontalo

Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo.

Tumbilotohe yang berarti pasang lampu, yaitu tradisi menyalakan lampu atau malam pasang lampu pada saat menjelang Magrib hingga pagi hari. Pelaksanaan Tumbilotohe biasanya dilakukan pada hari ke-28,29 dan ke-30 Ramadhan atau selama 3 malam terakhir terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri. Suasana di tengah nuansa kemenangan, disaat langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya, telah meyakini masyarakat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia.

Pada tahun 2007, “tumbilotohe” masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), karena 5.000.000 (lima juta) lampu menyemarakkan tradisi tersebut.

Menurut sejarah kegiatan Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah.

Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran. Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu.

Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu-lampu botol di depan rumah- rumah penduduk tampak memesona.

Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al Quran, sampai tulisan kaligrafi.

Tumbilotohe juga menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan mata sepanjang perjalanan menikmati lampu-lampu setiap rumah, kantor dan masjid.

Wednesday, 27 June 2012

Ondel - Ondel Seni Pertunjukkan Masyarakat Betawi

Ondel-ondel merupakan seni pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. 
Sekarang Ondel-Ondel kurang mendapat perhatian masyarakat, mungkin dikarenakan masyarakat Jakarta terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Ondel-ondel masih bisa kita liat saat acara ulang tahun Jakarta.
Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk.
Ondel-ondel Betawi itu sedang berdansa dengan pasangannya, satu ondel-ondel pria berwarna merah, satunya lagi ondel ondel wanita berwarna putih. Keduanya diiringi seperangkat tetabuhan gamelan Betawi. Ada Gendong, Tepak, Gendang Kempul, Kenong Kemong, Gong, Tehyan, Krecek dan Terompet yang bersahut-sahutan.
Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.
Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.

Friday, 22 June 2012

Roti Buaya Syarat Pernikahan Adat Betawi

Roti Buaya - adalah salah satu kue yang paling khas di Jakarta, pasalnya, roti ini adalah salah satu syarat bagi mempelai lelaki dalam pernikahan adat Betawi. Biasanya roti yang memiliki panjang sekitar 50 sentimeter ini dibawa oleh mempelai pengantin laki-laki pada acara serah-serahan.

Roti buaya mulai dikenal oleh orang-orang Jakarta saat masuknya bangsa eropa ke indonesia. Bagi bangsa eropa, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sehingga diperlukan simbol-simbol yang bisa mewakili pernikahan tersebut, saat itu simbol yang biasa dipakai oleh bangsa eropa yang menikah adalah bunga. Tak mau meniru gaya orang eropa, orang betawi pun berusaha untuk mencari simbol sendiri dalam pernikahan, maka dipilihlah roti buaya sebagai simbol pernikahan.

Mengapa harus roti buaya? Karena buaya merupakan simbol kesetiaan. Nyatanya buaya hanya akan kawin sekali saja. Filosofi inilah yang membuat buaya terpilih untuk mewakili simbolisasi pernikahan ala betawi, dengan harapan si pengantin bisa langgeng dan saling setia sampai akhir hayatnya.

Dan hingga kini, roti buaya sudah umum disebut sebagai roti kawinan betawi, bahkan ada beberapa kepercayaan yang kemudian menyebutkan bahwa perkawinan belum sah kalau belum ada roti buaya. 

Jika diperhatikan, memang benar dalam setiap pernikahan orang Betawi sekalu ada roti buaya. Jadi selain adu pantun dan petasan, roti buaya memegang aspek penting dalam budaya satu ini. Dikarenakan roti ini memiliki makna tersendiri bagi warga Betawi, yakni sebagai ungkapan kesetiaan pasangan yang menikah untuk sehidup-semati.



Sayangnya, saat ini roti buaya tidak mudah dijumpai di toko-toko roti. Untuk itu, bagi pasangan yang akan menikah harus pesan dulu ke tukang roti. Dan harganya juga bervariasi tergantung ukuran yang dipesan, yakni mulai dari 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Itu sudah termasuk rasa roti, keranjang, dan asesoris pelengkapnya. 

Saturday, 9 June 2012

Rambu Solo' Pemakaman Tana Toraja

Rambu Solo ' - setiap daerah punya tradisi menghormati kematian. Jika di Bali dikenal dengan istilah Ngaben, di Sumatera Utara dikenal Sarimatua, maka di Tana Toraja dikenal dengan upacara Rambu Solo’.
Persamaan dari ketiganya: ritual upacara kematian dan penguburan jenazah. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu Rambu Solo’ dan Rambu Tuka.
Rambu Solo’ merupakan upacara penguburan, sedangkan Rambu Tuka, adalah upacara adat selamatan rumah adat yang baru, atau yang baru saja selesai direnovasi.
Rambu Solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu.
Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.
Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda. Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama upacara sekitar 3 hari.
Tapi, sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai akhirnya keluarga almarhum/ almarhumah dapat menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini.
Upacara Rambu Solo ini dikatakan upacara yang rumit karena memiliki sejumlah tingkatan sesuai dengan status sosial mendiang dan keluarganya. Biasanya jenazah tadi disertai pula dengan patung yang menggambarkan diri sang mendiang. Patung ini disebut tau - tau. Kemudian, pada prosesi terakhir, mayat tadi dibawa ke tebing dan diletakkan di dinding tebing begitu saja. Dan ajaibnya, seperti sepenggal kisah diatas, mayat yang diletakkan di dinding itu tidak mengeluarkan bau busuk.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga Bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Mayat Berjalan Suku Toraja

Mayat Berjalan - konon, di sebuah desa Sillanang, ditemukan sebuah kuburan masal. Kuburan masal itu terletak di sebuah gua, dan penduduk setempat mengatakan bahwa mayat yang disimpan disana tidak pernah membusuk. Luar biasanya, mayat - mayat itu tidak diberi perlakuan khusus seperti proses pembalseman pada mumi Mesir Kuno.

Seorang penduduk bernama Tampubolon menduga jika ada semacam zat khusus yang membuat mayat - mayat itu tidak membusuk. Disamping kuburan yang ajaib itu, ada pula sebuah kisah mengenai mayat berjalan yang dikendalikan oleh seorang pawang. Mayat itu dikatakan berjalan layaknya orang yang masih hidup, hanya saja cara berjalannya agak terseok - seok.
Mayat itu dikendalikan dengan tujuan untuk menuntunnya kembali ke tujuan akhirnya, yaitu rumahnya sendiri. Diceritakan dahulu orang Toraja senang menjelajah daerah - daerah pegunungan. Mereka tidak menggunakan alat transportasi apapun ketika menjelajah. Dalam penjelajahan yang berat itu, beberapa orang tidak kuat untuk melanjutkan lagi dan jatuh sakit. Karena bekal dan obat - obatan yang dibawa sangat minim, anggota mereka yang sakit tadi akhirnya meninggal.
Karena mustahil untuk meninggalkan mayat rekan mereka, dan akan sangat merepotkan bila harus membawa pulang jenazahnya, maka dengan suatu ritual gaib, mereka membangkitkan mayat tersebut dan mengendalikannya. Mereka menuntun mayat itu sampai ke rumahnya. Ada pantangan yang tidak boleh dilakukan selama mayat itu belum sampai di rumahnya, mayat tidak boleh disentuh, jika dilakukan, maka mantra yang ada pada sang mayat akan hilang.
Menjadi sebuah mitos yang melegenda penuh dengan sejarah dikalangan suku Toraja yaitu Mayat Berjalan. Menyaksikan sebuah mitos tentang mayat berjalan sudah pernah dialami oleh nenek moyang kami pada zaman dahulu kala. Ini adalah sebuah tradisi yang merupakan bagian dari adat-istiadat suku Toraja. Pernahkah terlintas dibenak kita bahwa di Indonesia ada sebuah suku yang mempenyai tradisi mayat berjalan? 
Mungkin tidak, tetapi menjadi penting bagi kita, bahwa sebuah kebanggaan besar yang cukup begitu membuktikan dan meyakinkan Negara-negara lain bahwa memang Indonesia kaya akan budaya adat istiadat.
Tidak ada pernah terdengar bahwa ada suku di Indonesia apalagi di dunia yang mempunyai budaya mayat berjalan. Hanya satu-satunya suku yang mempunyai tradisi ini yaitu Suku Toraja.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Toraja bahwa dahulu kala, tahun 1905 telah ditemukan di gua sebuah mayat manusia yang utuh yang tidak busuk sampai sekarang. Mayat ini tidak dibalsem dan tidak diberi ramuan apa pun seperti yang dilakukan orang mesir pada umumnya. Ajaibnya mayat ini masih bisa tetap utuh. Menurut Tampubolon di gua itu terdapat semacam zat yang bisa mengawetkannya. Selain tidak berbau busuk ada juga yang berjalan diatas kedua kakinya bagaikan orang yang tidak kekurangan suatu apa-apa. Kalau mau dicari perbedaannya ada, tetapi juga tidak begitu kentara. Konon menurut Tampubolon disebuah media dia mengatakan bahwa sang mayat berjalan kaku dan agak tersentak-sentak. Dan dalam perjalanan itu ia tidak bisa sendirian, harus ditemani oleh satu orang hidup yang mengawalnya, sampai ketujuan akhir yaitu rumahnya sendiri. Mengapa harus demikian? Karena pada zaman dahulu kala, orang-orang Toraja biasa menjelajahi daerahnya yang bergunung dan berjurang dengan hanya berjalan kaki tanpa mengenal pedati, delman, gerobak, atau yang semacamnya dengan itulah, maka mayat tersebut di ritualkan.
Jika dilihat zaman sekarang, setelah tana toraja disentuh oleh agama, kejadian mayat berjalan sudah sangat jarang terjadi. Padahal ini adalah sebuah budaya yang begitu menakjubkan dan dapat dikembangkan sebagai bagian tradisi kita yang dapat kita kembangkan untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Aku sebenarnya begitu rindu melihat tradisi budaya ini, namun pemerintah tidak lagi memperhatikan budaya ini yang bisa dikatakan hampir hilang. Seharusnya pemerintah tana toraja harus mengembangkan budaya ini sebagai asset yang dapat menambah pendapatan daerah kita dan dapat membuat Tana Toraja lebih dikenal di mancanegara sana.

Saturday, 5 May 2012

Tradisi Berburu Paus Masyarakat Lamalera

Tradisi Berburu Paus - tradisi ini hanya ada di Nusa Tenggara Timur tepatnya di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Tradisi ini telah memperkenalkan penduduk di kaki gunung labalekan ke seluruh dunia. Tradisi yang turun-temurun dari nenek moyang mereka, diprediksi tradisi yang menyiksa paus ini sejak abad ke-16.
Para nelayan tradisional hanya dilengkapi satu-satunya senjata andalan berupa tombak yang dinamakan tempuling. Senjata tradisional ini berupa sebatang bambu panjang yang di salah satu ujungnya ditancap besi runcing. Dengan senjata itu mereka berusaha membunuh ikan paus, yang besar tubuhnya puluhan kali lebih besar dari tubuh manusia.
Sebelum musim berburu, Desa Lamalera memiliki tradisi atau budaya penangkapan paus yang setiap tahunnya diadakan upacara adat sekaligus misa untuk memohon berkah dari sang leluhur serta mengenang para arwah nenek moyang mereka yang gugur di medan bahari bergelut dengan sang paus. Upacara dan Misa atau biasa di sebut lefa dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei.
Perburuan paus biasanya dimulai pada bulan mei, perburuan dilakukan menggunakan perahu yang terbuat dari kayu yang disebut paledang. Orang yang bertugas menikam paus disebut lama fa. Orang ini berdiri di ujung perahu, buritan atau haluan, saat paus yang diburu mulai kelihatan. Lama fa selalu mencari kesempatan untuk menikamkan tempuling di tubuh paus. Tombak atau tempuling bukan sekadar dilempar ke tubuh paus, melainkan si lama fa melompat menuju paus sambil memegang tempuling dan dengan kekuatan penuh menghujamkan tempuling ke tubuh paus.
Walaupun sudah ada beberapa konvensi yang melarang perburuan ikan paus, tradisi berburu ikan paus ini sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Para penduduk Lamalera mengatakan, mereka tahu ikan paus mana yang menjadi buruan mereka. Ikan paus yang masih kecil dan yang sedang hamil tidak akan diburu. Hal itu untuk menjaga populasi paus di daerah Lamalera.
Tak jarang dari mereka, para pemburu menjadi korban keganasan paus yang melawan, dan jika begitu masyarakat beranggapan bahwa yang menjadi korban adalah para mereka yang tidak bersih maksudnya mereka ada masalah dengan istri atau anak yang belum selesai.


Friday, 27 April 2012

Tradisi Perang Obor Kabupaten Jepara

Perang Obor - sebuah tradisi dari Desa Tegalsambi, Kabupaten Jepara. Tradisi asli orang Jepara. Tongkat api yang digunakan berasal dari daun blarak (daun kelapa kering) dan klaras (pelepah daun pisang kering) berapi dan saling dipukulkan ke tubuh lawan. Bentuknya disesuaikan dengan legenda Kyai Babadan dan Ki Gemblong. Dan Anehnya, semua peserta tidak terbakar. Luka melepuh yang didapat saat perang bisa segera disembuhkan dengan minyak Londoh.



Biasanya tradisi Perang Obor dilakukan di hari Selasa Pon bulanZulhijjah. Tahun ini tradisi tahunan untuk melestarikan budaya asli ini akan jatuh pada tanggal 28 April 2012. Sebelum acara dimulai akan diadakan selamatan di 7 tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Tegal sambi. Setelah itu seekor kerbau jantan muda yang belum pernah dipakai membajak sawah disembelih di rumah kepala desa. Perang yang ini biasanya berlangsung selama 1 jam.


Meskipun tradisi ini berbahaya, namun masyarakat menyambut dengan bahagia, selain itu juga mendatangkan para wisatawan. Ikut terlibat dalam tradisi ini merupakan suatu kebanggaan, karena bisa menghilangkan rasa takut juga bisa menghantam obor yang menyala keteman kita.

Saturday, 7 April 2012

Lompat Batu Tradisi Khas Masyarakat Nias

Lompat Batu - atau hombo batu, salah satu tradisi yang sli sumatera utara, khususnya masyarakat nias, sampai terkenalnya tradisi ini, uang seribu rupiah pernah menampilkannya pada uang kertas tersebut pada tahun 1990an. Lompat Batu merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini telah dilakukan sejak lama dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo.
 

Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para leluhur ,di mana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku sehingga mereka melatih diri mereka agar kuat dan mampu menembus benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati.

Tujuannya adalah sebagai ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di nias menjelang usia dewasa.Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya tak kurang 2 (dua) meter dengan lebar 90 centimeter (cm) dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.

Seiring berkembangnya jaman, tradisi ini turut berubah fungsinya. Karena jaman sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi lompat batu digunakan bukan untuk perang lagi melainkan untuk ritual dan juga sebagai simbol budaya orang Nias. Tradisi lompat batu adalah ritus budaya untuk menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Sejak kecil anak - anak sudah diajarkan untuk berlatih mereka tidak melewati batu melainkan melewati sebuah kayu yang ada di dalam rumah.

Sampai sekarang tradisi ini tetap eksis di tengah budaya moderen yang semakin menghimpit. Semoga saja kita dapat melestarikan budaya ini agar menjadi kebanggaan tersendiri untuk bangsa kita.

Thursday, 29 March 2012

Tradisi Usai Panen Warga Bone

Tradisi mallanca - merupakan tradisi usai panen besar, warga Desa Corawali, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menggelar tradisi mallanca atau adu betis. Selain merupakan ungkapan syukur warga kepada Yang Maha Kuasa atas panen yang melimpah, tradisi itu juga dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi. 



Meski terkesen anarkis, permainan rakyat yang dinamakan Mallanca ini sangat diminati oleh warga. Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, permainan rakyat ini sudah berlangsung secara turun temurun dan digelar setiap usai panen, hal ini dilakukan untuk menguji kekuatan betis.


Sebelum permainan rakyat ini dimulai, kaum ibu di desa tersebut terlebih dahulu menyajikan makanan yang dibawa dari rumah untuk disantap bersama. Baik untuk peserta Mallannca, maupun penonton yang datang dari desa tetangga.


Dalam tradisi tersebut satu persatu peserta atau para jawara kampung memperagakan kekuatan betisnya. Dalam permainan ini tak jarang para peserta mengalami kesakitan, bahkan keseleo akibat hantaman kekuatan kaki lawan. 


Dalam tradisi itu, dua orang dewasa dalam satu tim melawan dua orang di tim lainnya. Tiap orang dalam masing-masing tim memiliki peran tersendiri. Salah seorang yang menjadi target adu betis memasang kaki dengan kuda-kuda kuat, sedangkan temannya berdiri di belakang untuk menahan temannya itu dengan kakinya. 


Lawan yang sudah siap dengan kuda-kudanya langsung menendang bagian betis targetnya. Adu betis pun berlangsung. 


Sebelum melaksanakan adu betis, para peserta sudah mempersiapkan diri dengan melakukan ritual dan menjampi-jampi bagian betisnya. Mereka meyakini, ritual yang mereka lakukan akan menghindarkan mereka dari petaka. Pasalnya, tidak jarang warga yang mengalami patah tulang saat mengadu betisnya dengan lawannya. 


Meski terbilang ekstrim lantaran tanpa menggunakan pengaman, kegiatan itu menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Tradisi itu bukan hanya tontotonan kaum pria dewasa, anak-anak dan ibu-ibu pun ikut menikmatinya. 


Mallanca digelar selama empat jam dari siang hingga menjelang sore. Sehingga warga masih punya waktu untuk kembali ke rumah masing-masing dan membereskan gabah yang mereka jemur.

Ngaben Tradisi Bakar Mayat

Ngaben - adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sbg kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Seperti yg tulis di artikel ttg pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. Ada beberapa pendapat ttg asal kata ngaben. Ada yg mengatakan ngaben dari kata beya yg artinya bekal, ada juga yg mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu), dll.


Foto : Sebelum dibakar diarak terlebih dahulu
Hanya melalui pembakaran jenazahlah jiwa dapat dilepaskan dari dunia sementara untuk mendapatkan kehidupan setelah kematian. Dan untuk menjalani ini beberapa upacara dan ritual harus diikuti, terutama ketika keturunan kerajaan meninggal. Pada kematian tubuh harus dibakar oleh api karena jiwa harus kembali pada lima elemen yang dikenal dengan Panca Maha Buta (bumi, angin, api, air dan eter)  hal ini bertujuan untuk mengirim jiwa pada kehidupan setelah kematian.
Hanya dengan mengikuti upacara dan ritual yang layak dan tepat, jiwa akan bebas dari tubuh untuk dilahirkan kembali dan akhirnya menggapai Moksa, kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi.
Upacara pembakaran jenazah di Bali mewah dan mahal. Lebih tinggi status seseorang, persiapan megah dan dekorasi yang dibutuhkan akan semakin tinggi. Oleh karena itu, jenazah Almarhum harus dikubur untuk beberapa saat sebelum keluarga dan masyarakat bisa mengumpulan dana yang cukup. Ini merupakan adat yang umum bagi masyarakat biasa untuk menunggu pembakaran jenazah seorang bangsawan atau pemuka agama yang nantinya digabung dalam ritual ngiring untuk pembakaran jenazah keluarga mereka jika diizinkan.
Beberapa hari sebelum hari pembakaran, jiwa Almarhum yang mengembara dipanggil untuk bersatu dengan tubuhnya, biasanya disimbolkan oleh patung orang, dibawa ke rumah untuk dimandikan berulang-ulang, dipersiapkan oleh anggota keluarga.
Pada malam pembakaran, para pendeta mempersembahkan persembahan pada kekuatan supranatural yang diminta untuk membuka jalan bagi jiwa, sementara para anggota keluarga berdoa untuk membebaskan jiwa Almarhum ke surga.
Hari berikutnya, jenazah dibawa ke alam terbuka dimana pembakaran diadakan, yang biasanya setelah matahari melewati titik puncaknya. Ketika semua tubuh sudah terbakar, anggota keluarga mengumpulkan debu-debu dan tulang Almarhum, dan kemudian patung orang yang meninggal tersebut dibawa dalam prosesi di laut atau sungai, kemudian debu dituangkan ke dalam air, kedalam perlindungan dewa laut.
Bulan-bulan atau tahun-tahun berikutnya setelah pembakaran, ketika dana sudah cukup terkumpul, akan ada upacara-upacara lagi untuk meyakinkan pemisahan jiwa yang sempurna dari ikatan keduniawian, bertujuan untuk melepaskan jiwa ke surga. Pada upacara terakhir disebut upacara nyagara-gunung, keluarga mengekpresikan terima kasih mereka pada dewa laut di candi-candi gunung dimana jiwa yang suci diabadikan di candi, untuk menunggu kelahiran kembali atau kebebasan dari lingkaran kelahiran kembali.

Nyadran Tradisi Masyarkat Jawa

Nyadran - merupakan tradisi telah tumbuh dalam masyarakat dan biasanya berhubungan erat dengan sumber daya alam dan kondisi hidup setempat. Dengan kata lain, seringkali tradisi seperti inilah yang lebih ramah lingkungan dan secara langsung ataupun tidak langsung memberi pengetahuan tentang keadaan lokal.

Foto ketika makanan dikumpulkan dan akan dimakan bersama-sama

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritus ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya'ban atau Ruwah.


Nyadran dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritus dan objeknya. Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaannya, di mana nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif.

Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.

Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu-Buddha dan animisme yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam oleh Wali Songo.

Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan.

Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting). Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

Selesai melakukan pembersihan makam, masyarakat kampung menggelar kenduri yang berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur (keluarga). Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja hadir dalam acara kenduri itu.

Tiap keluarga biasanya akan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama lokal) yang sudah dipilih menjadi rois, maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Doanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Suasana ceria anak-anak tergambar dengan semangat melafalkan amin sambil berteriak. Selesai berdoa, semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.

Pada saat itu ada yang tukar-menukar kue, ada yang asyik ngobrol dengan kanan-kiri, maklum beberapa warga pulang dari perantauan hadir dalam kenduri. Biasanya Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tak hadir atau si miskin diberi gandhulan, nasi, kue yang dikemas khusus kemudian diantar ke rumah yang sudah disepakati diberi gandhulan.

Dari tata cara tersebut, jelas nyadran tidak sekadar ziarah ke makam leluhur, tetapi juga ada nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotongroyong, guyub, pengorbanan, ekonomi. Bahkan, seusai nyadran ada warga yang mengajak saudara di desa ikut merantau dan bekerja di kota-kota besar.

Di sini ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah. Di samping itu, semakin jelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda.

Nyadran merupakan ekspresi dan ungkapan kesalehan sosial masyarakat di mana rasa gotong- royong, solidaritas, dan kebersamaan menjadi pola utama dari tradisi ini. Ungkapan ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tata hubungan vertikal-horizontal yang lebih intim. Dalam konteks ini, maka nyadran akan dapat meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat (sosial), sehingga akhirnya akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari.

Dalam konteks sosial dan budaya, nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme (Gatot Marsono). Dalam prosesi ritual atau tradisi nyadran kita akan berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan ataupun partai.

Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayem, dan tenteram.

Nyadran dalam konteks Indonesia saat ini telah menjelma sebagai refleksi, wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari. Masyarakat, yang disibukkan dengan aktivitas kerja yang banyak menyedot tenaga sekaligus (terkadang) sampai mengabaikan religiusitas, melalui nyadran, seakan tersentak kesadaran hati nuraninya untuk kembali bersentuhan dan bercengkrama dengan nilai-nilai agama: Tuhan.

Selain di daerah Jawa Tengah, masyarakat pesisir pantai utara, seperti Cirebon juga mengenal nyadran. Di Cirebon, nyadran dikenal sebagai upacara buang saji ke lautan lepas. Tujuan utama dari upacara ini adalah rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas hasil tangkapan ikan yang berlimpah karena masyarakat di sini sebagian besar nelayan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons